Selasa, 30 April 2013

Guru pahlawan tanpa jasa



       Di sebuah pegunungan ada sebuah sekolah kecil yang bernama SMP Muhammadiyah 50,SMP ini terbuat dari bambu yang dibuat oleh masyarakat sekitar yang mau membantu.Jumlah murid di SMP ini cuma 10, laki-laki berjumlah 5 perempuan berjumlah 5 salah satunya Dimas dan Arya.Guru di SMP itu cuman berjumlah 1 yaitu Pak Ali sebagai kepala sekolah dan guru agama.

           Murid-murid biasanya membayar dengan hasil pertanian tetapi ada juga yang tidak membayar seperti Dimas karena Dimas hidup tak bersama kedua orang tuanya  tetapi bersama neneknya.Murid-murid yang belajar di sana sangat antusias untuk maju keculi Dimas yang bersifat nakal,kenakalan Dimas disertai alasan yang kuat karena waktu dulu kelas 1 SD Dimas ditinggal oleh ibu nya dan setelah itu juga dia ditinggal ayah nya pergi ke kota setelah itu dia hidup kepada neneknya.


             Keseharian Dimas di sekolah dia sangat nakal sekali, kenakalan Dimas berbeda dengan Arya, Arya yang bersifat baik, jujur, pintar disukai banyak temannya di sekolah. Arya selalu mendapat ranking satu di kelas tetapi Dimas selalu mendapat ranking terakhir karena Dimas  tidak pernah belajar karena kecewa ditinggal oleh kedua orang tua nya, Dimas sendirian karena tidak ada teman. Untuk melampiaskan kekecewaannya Dimas akhirnya bergaul dengan anak-anak nakal.

             Di sekolah, Dimas selalu tidak masuk sekolah, tidak mengerjakan PR, sering datang terlambat dan sering  menggoda temannya. Pada suatu hari Dimas menggoda teman perempuannya sampai menangis, kemudian Dimas dipanggil oleh Pak Ali di ruang kepala sekolah.Dimas ditenggur oleh Pak Ali agar menjadi anak yang baik tetapi Dimas tidak menghiraukan perkataan Pak Ali.

            Pada pekan selanjutnya Dimas bertingkah laku sama, kedua kalinya dia dipanggil Pak Ali karena berani membuat gaduh kelas sampai-sampai semua murid keluar dari kelas hanya karena Dimas. Karena pak Ali tahu Dimas di maafkan lagi. Pekan ke terakhir sebelum ujian yaitu pekan ke 5 perlakuan Dimas sudah kelewatan dia berani menempelkan bekas permen karet ke tempat duduk Pak Ali, tidak beberapa lama pak Ali duduk di tempat Dimas langsung dibawa ke ruangan kepala sekolah dan dihukum berdiri di lapangan sampai anak-anak yang lain pulang.

     Pada saat Dimas dihukum Dimas berkata “pak Ali jahat” lalu Pak Ali berkata “Dimas pak Ali menghukum kamu bukan karena Pak Ali jahat tetapi Pak Ali sayang sama kamu nak” dibalas lagi oleh Dimas “kalau pak Ali sayang kenapa pak Ali menghukum aku” “jelaskan sekarang” pak Ali membalas “Dimas Pak Ali menghukum kamu karena kamu nakal nak” “kalau saja kamu tidak  nakal kayak Arya dan teman-temanmu itu Pak Ali tidak menghukummu nak” Dimas pun membalas lagi “ooooo jadi sebab itu aku sering ke ruang kepala sekolah” pak Ali membalas dengan penuh senyuman “iya nak”.

          Pada saat ujian nasional  Dimas berubah menjadi anak yang baik dia selalu mengerjakan pr, tidak pernah terlambat, sehingga dia bertekad untuk menjadi bintang kelas di kelasnya. Sebelum mengerjakan soal ulangan Dimas mendapat pesan dari pak Ali sebuah kertas kecil yang bertuliskan “Dimas jika kau ingin menjadi anak yang baik kerjakan ulangan ini dengan sungguh-sungguh dan percaya diri lah, BISMIILLAH” Dimas membaca pesan dari pak Ali sambil meneteskan air mata karena Dimas terharu membacanya.

                 Setelah ujian nasional telah selesai Dimas dipanggil oleh pak Ali ke ruang kepala sekolah. Sekiranya Dimas akan dihukum lagi tetapi perkiraan Dimas salah, Dimas dipanggil karena mendapat nilai terbagus sama dengan nilai Arya yaitu 29,50. Betapa senangnya Dimas sampai-sampai dia naik ke atas pohon kelapa dan bilang “Ibu Bapak aku dapat nilai bagus”.Tidak hanya Dimas saja yang berbahagia tetapi seluruh murid pun juga merasakan nilai bagus itu.

        Pada saat akan meninggalkan SMP Muhammadiyah 50 Dimas bilang ke Pak Ali “pak Ali selama ini Dimas mengira pak Ali guru yang jahat tetapi Dimas mengerti sekarang bahwa pak Ali adalah Pahlawan tanpa tanda jasa yang mau membimbing Dimas untuk menjadi yang terbaik baik dari ilmu pengetahuan maupun ilmu agama” “Pak Ali Dimas punya satu pesan buat bapak” pak Ali pun menjawab “apa itu nak” Dimas membalas lagi “terima kasih pak” pak Ali menjawab dengan muka terharu “iya nak” Dimas dan pak Ali pun berpelukan tanda dari Dimas bahwa rasa terima kasihnya kepada pak Ali.

           Pada saat tahun ajaran baru setelah Dimas dan kawan-kawan lulus smp muhammadiyah 50 terasa sepi bagi pak Ali karena tidak ada murid lagi yang mau sekolah disana tetapi Dimas selalu menyempatkan mengirim surat kepada pak Ali tentang masalah baru di SMA seperti pesan berikut:”Pak Ali bagaimana kabarnya aku kangen sama pak Ali, tentang masalah di SMA aku sering mendapat nilai bagus berkat pak Ali terima kasih ya pak atas semuanya. ”                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        
Pak Ali pun menjawab dari hatinya yaitu iya nak sama-sama mudah-mudahan kamu tidak nakal nak”.

            Setelah Dimas dan Arya lulus SMA dengan nilai memuaskan mereka berdua akhirnya masuk ITB jurusan teknologi. Meskipun mereka dulu pernah bermusuhan tetapi mereka punya cita-cita yaitu ingin pergi ke Paris bersama-sama. Dimas dan Arya pun juga bekerja sebagai pembuat berita ternama Jawa pos dengan gaji rata-rata 1 bulan 10 juta. Meskipun Dimas telah kaya raya tetapi ia tak pernah lupa dengan pesan pak Ali yaitu:Jangan pernah membuat nangis seseorang maka hidupmu akan kesepian. Sampai saat itu Dimas tidak pernah lupa dengan pesan-pesan pak Ali.

            

       




       Pada tanggal 25-12-1996, Dimas dan Arya berhasil untuk pertama kali pergi ke Paris. Betapa senangnya hati mereka berdua karena mereka berhasil menginjakkan kota yang romantis. Meskipun berhasil pergi ke Paris Dimas masih menyempatkan untuk mengirim surat kepada Pak Ali karena telah berhasil keluar negeri. Karena surat itu telah sampai ke tangan pak Ali, Pak Ali sangat bangga karena Dimas yang dulunya nakal tetapi bisa pergi keluar negeri, pak Ali membaca surat itu sambil menangis terharu tersedu-seduh sampai semua kiriman surat Dimas selalu disimpan di buku khusus.

          
        















“Dan itulah apa yang dimaksud guru pahlawan tanpa tanda jasa yang bersabar membimbing murid-muridnya untuk menjadi yang terbaik,karena itu hargailah Gurumu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar